Lima Nilai Kepemimpinan 2.0 Ala Mendikbud

Lima Nilai Kepemimpinan 2.0 Ala Mendikbud

- PPPGTK
3178

Mas Menteri, sapaan akrabnya mengingatkan kepada seluruh kepala sekolah dan pengawas  tentang 5 lima poin yang menjadi dasar untuk Kepemimpinan 2.0 yang menjadi topik materinya.

 

GTK, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim hadir sebagai keynote speaker dalam Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah tahun 2019 yang digelar oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (29/11/2019).

Dalam kesempatannya pada simposium internasional yang digelar 27 s.d. 30 November 2019 ini, Mas Menteri, sapaan akrabnya mengingatkan kepada seluruh kepala sekolah dan pengawas  tentang 5 lima poin yang menjadi dasar untuk Kepemimpinan 2.0 yang menjadi topik materinya yang berkaitan dengan tema simposium yaitu “Innovative School Leadership to Improve Student Learning dan Wellbeing”.

“Topik saya berbicara di sini adalah mengenai Kepemimpinan 2.0, tentang bagaimana pemikiran kita sebagai pemimpin bisa berubah di masa yang baru ini, karena pemimpin itu harus berani ditanya dan diinterogasi,” ungkapnya.

Tantangan masa datang yang semakin hebat dan tidak dapat diprediksi menjadi perhatian Nadiem. Ia mengatakan dengan tantangan yang tidak dapat diprediksi pemerintah harus dapat menyiapkan kebutuhan seperti apa yang diperlukan oleh para peserta didik sehingga ketika mereka lulus nanti bisa tumbuh dan sukses.

“Kita menghadapi tantangan yang luar biasa hebat. Era teknologi melakukan perubahan yang begitu cepat. Dan kita tidak mungkin memprediksi semua jenis perubahan yang akan dihadapi. Dengan tantangan di dalam dunia pendidikan yang berorientasi ke masa depan, kita harus pintar-pintar menebak tantangan tersebut tentang seperti apa kebutuhan mereka, jadi ketika peserta didik terjun ke dunia profesi, mereka bisa tumbuh dan sukses,” terangnya.

“Yang saya yakin adalah kompetensi yang akan dan paling berguna untuk perubahan apapun adalah Creativity, Collaboration, Communication, Critical Thinking, Computational Logic, dan Compassion, dan ini juga menjadi kompetensi yang terpenting yang harus dibentuk juga kepada guru-guru, kepala sekolah, pengawas sekolah serta pemimpin sistem pendidikan kita,” tambahnya.

Untuk Kepemimpinan 2.0, menurutnya, ada beberapa hal yang ia pelajari ketika menjabat sebagai CEO di perusahaannya beberapa waktu lalu. Teori kepemimpinan yang ia pelajari itu ingin diterapkan di sistem pendidikan Indonesia.

“Ada beberapa hal mengenai kepemimpinan yang ingin saya bicarakan, dan ini dari pengalaman saya sendiri, memimpin organisasi sebelumnya dengan lebih dari 2 juta karyawan di seluruh Indonesia. Jadi ada beberapa hal yang saya pelajari dan ingin saya terapkan juga di dalam teori kepemimpinan di sistem pendidikan," tukasnya.

“Pertama adalah perubahan paradigma. Dari kementerian sampai ke dinas, pengawas sampai ke kepala sekolah. Saya ingin mengajak Bapak Ibu mengubah paradigma pemimpin dari penguasa, pengendali atau regulator, menjadi paradigma kepemimpinan yang melayani, kita semua jadi pelayan daripada bawahan kita. Ini mungkin perubahan mendasar yang terpenting sekarang. Setiap kali kita berinteraksi, pertanyaan pertama adalah apakah saya telah membantu bawahan dalam mengerjakan tugasnya,” tambahnya.

Kedua, Nadiem meminta agar sekolah sebelum membuat kebijakan harus melihat apa dampaknya bagi siswa, apakah kebijakan itu berdampak ke siswa atau tidak. Ia juga meminta perubahan yang dibawa oleh guru dan sekolah itu menciptakan rasa aman bagi siswa.

“Yang kedua adalah untuk memfilter semua aktivitas kita, semua ucapan, keputusan kita kepada end user yaitu siswa. Jadi sebelum kita mengambil sebuah keputusan, tanya dulu, apa dampak positifnya kepada siswa. Kalau jawabannya tidak ada, ya jangan dikerjakan, kalau jawabannya baik dampaknya adalah baik, berarti dikerjakan dan dikembangkan,” ucap Mas Menteri.

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang pemberian apresiasi kepada bawahan yang telah mencoba hal baru namun tidak mencapai hasil yang maksimal.

“Ketiga, adalah kepemimpinan 2.0 adalah bagaimana pemimpin itu bisa menjadi lebih baik tanpa menciptakan lingkungan yang aman, aman untuk bawahan mencetuskan gagasan, aman untuk bawahan mengkritik atasan, aman untuk mencoba suatu hal yang baru dengan kemungkinan gagal. Bagaimana kita sebagai pemimpin melihat suatu kegagalan itu luar biasa pentingnya untuk menciptakan budaya inovatif dalam organisasi kita," jelasnya.

“Kalau ada guru atau kepala sekolah yang mau coba sesuatu yang baru tapi tidak sukses, atau ternyata dampaknya bukan yang diinginkan jangan dimarahin. Beri mereka apresiasi, “Oh baik, kamu berani lakukan sesuatu yang baru, nggak apa kita coba yang lain'. Itu yang sangat penting! Karena kegagalan bagi saya sendiri adalah satu-satunya guru yang konsisten mengajarkan saya cara menuju kesuksesan. Jarang kita bisa belajar dari kesuksesan,” tambahnya.

“Yang terpenting adalah antara guru, antara kepala sekolah, antara pengawas untuk berkumpul dan bercerita mengenai pengalamannya, bertukar pikiran, berdebat, dan menggali informasi dari sesama pelaku pendidik,” ungkap Mendikbud.

Satu pertanyaan penting juga menjadi awal yang baik untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Nadiem mengungkapkan tentang pertanyaan bagaimana seluruh peserta ini bisa menjadi pemimpin yang lebih baik.

“Keempat, ada beberapa hal untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Kita harus menanyakan satu pertanyaan penting, Bagaimana saya bisa menjadi pemimpin yang lebih baik untuk anda? Perbincangan itu luar biasa penting dampaknya, karena memberikan suatu sinyal kepada seluruh instansi pendidikan,” ujar Nadiem.

Nadiem juga mengingatkan kepada pengawas sekolah agar bersikap sebagai 'pelayan' untuk sekolah dan guru. Ia pun meminta para pengawas itu mengubah paradigmanya agar menjadi pelayan, pengawas yang bersifat melayani dan tidak hanya bersifat mengawasi.

"Saya ingin tanyakan seberapa sering misal pengawas datang ke sekolah dan nanya ke kepala sekolah dan guru, gimana sih biar saya lebih baik melayani anda, ajarin saya. Perbincangan itu luar biasa pentingnya dampaknya. Makanya terus terang bapak Ibu mohon maaf, saya nggak terlalu ngefans sama kata itu 'pengawas', nggak suka sama implikasinya. Mohon maaf, karena sebenarnya kalau pengawas itu sinyal yang diberikan ya memang harus diawasi kepala sekolah dan guru. Kenapa harus diawasi? Mungkin karena kita tidak memberikan kepercayaan. Jadi, mohon sedikit diubah paradigmanya dari yang tadinya cuma mengawas saja, jadi melayani," terangnya.

Ia juga meminta agar guru bisa menciptakan kondisi melayani seperti pengawas sekolah itu tercipta di dalam kelas. Mendikbud berharap kepala sekolah harus sering ke dalam kelas mengunjungi siswa saat belajar dan memberikan terobosan baru kepada siswa.

"Kepsek harus sering-sering jalan ke dalam kelas, duduk dan observasi dan memberikan masukan. Siapa tahu belajar juga ada teknik-teknik baru. Pengawas pun diharapkan juga bisa duduk di dalam kelas dan observasi. Jangan cuma 5 menit 10 menit lalu ganti-ganti kelas, lebih baik di satu kelas tapi satu jam agar benar-benar bisa merasakan apa yang dialami siswa-siswa," tegasnya.

Terakhir, Ia meminta agar sekolah bisa mengeluarkan terobosan yang kreatif bagi siswa. Hal ini, menurut Nadiem efektif untuk menghasilkan anak-anak yang cerdas dan kreatif.

"Poin terakhir saya adalah untuk menekankan bahwa organisasi yang namanya sekolah itu tidak ada bedanya sama organisasi-organisasi lain, untuk mencetak generasi berikut kita yang inovatif, kreatif dan penuh dengan value arau moralitas karakter. Organisasi sekolah ini harus bekerja dengan cara kreatif inovatif dan dengan karakter dan integritas," terangnya.

Ia pun mengajak agar seluruh sekolah melakukan reformasi pendidikan mulai dari sekarang. Ia mengajak agar semua guru menerapkan perubahan karakter pendidikan ini agar diterapkan menyeluruh dan secara permanen.

"Saya mengajak berbagai macam ini dengan keyakinan bahwa reformasi pendidikan ini harus menjadi suatu pergerakan, pergerakan dari atas dan pergerakan dari bawah, barulah di tengah kita akan bertemu untuk lakukan perubahan yang benar-benar permanen, jangan cuma untuk beberapa tahun ke depan aja," tutupnya.

Berita Terkait

Headline

Pesan Mendikbudristek di Hari Anak Nasional