Dari Guru, Sampai Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020

Dari Guru, Sampai Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020

- Guru Berbagi
449

Wahyana dan Qomarul Lailiah, keduanya adalah BWF Certified Umpire.

 

GTK, Jakarta – Merah Putih kembali berkibar dan Indonesia Raya kembali berkumandang di ajang Olimpiade. Di Olimpiade Tokyo 2020, Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Selain itu ternyata ada cerita lain yang menarik. Ternyata ada dua orang guru Indonesia menjadi wasit Olimpiade di cabang olahraga bulu tangkis.

Pada Sapa GTK 9: Dari Guru, Sampai Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril berkesempatan untuk belajar dan berbagi dengan Wahyana dan Qomarul Lailiah. Sahabat Guru dan Tenaga Kependidikan dapat mereguk inspirasinya di akun Instagram @dirjen.gtk.

Wahyana, guru PJOK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 4 Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, sedangkan Qomarul Lailiah, guru Bahasa Inggris SDN Sawunggaling I/382, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Keduanya adalah BWF Certified Umpire, level tertinggi dalam perwasitan bulu tangkis sedunia (BWF: Badminton World Federation). Bahkan Yana saat ini juga sudah menjadi Badminton Asia Assessor Panel.

Di Sapa GTK dikupas tentang perjalanan mereka berdua menjadi pendidik, perjalanannya menjadi wasit, dan pengalaman mereka di Olimpiade Tokyo.

Yana menjadi guru olahraga karena didorong keinginannya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, hobinya berolahraga, dan faktor ekonomi keluarga. Beliau terinspirasi juga oleh pamannya yang juga seorang guru.

Lia menjadi guru justru dengan tidak sengaja. Beliau tadinya bercita-cita bekerja di bidang public relations karena ia orang yang senang bersosialisasi dan berkomunikasi. Pada masa awal ia mengajar bahasa Inggris, motivasinya lebih kepada supaya ilmu bahasa Inggrisnya makin kuat. Ternyata ia malah jatuh cinta pada profesi guru. Dan teruslah Lia menjadi guru hingga saat ini.

Mendengar perjalanan kisah mereka, Sahabat Guru dan Tenaga Kependidikan dapat belajar banyak hal. Terutama sikap pantang menyerah walau situasi sulit dan terbatas. Kondisi awal mereka tidaklah ideal. Namun mereka belajar, mencoba, gagal, coba lagi, dan lagi. Akhirnya, mereka mencapai level tertinggi dalam dunia perwasitan. Inilah perwujudan growth mindset!

Sebagai pendidik, mereka bercita-cita melahirkan generasi Indonesia yang gemar belajar, berdaya juang tinggi, dan percaya diri.

“Terima kasih banyak, Pak Yana dan Bu Lia. Kami bangga sekali pada Anda berdua! Teruslah jadi teladan dan inspirasi bagi kita semua!” asa Mas Dirjen Iwan Syahril.

Apresiasi juga diucapkan Mas Menteri Nadiem Makarim pada akun Instagram-nya (@nadiemmakarim).

“Terima kasih atas pengabdian Bapak Wahyana dan Ibu Lia yang berhasil menembus Olimpiade Tokyo 2020 sebagai wasit cabang bulu tangkis. Ibu dan Bapak adalah inspirasi kami untuk terus berkontribusi mengharumkan nama Indonesia,” ujar Mendikbudristek.

“Maju terus untuk guru-guru Indonesia!” harap Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Headline

AN Tidak Menimbulkan Konsekuensi bagi Guru, Kepala Sekolah, maupun Individu Siswa