Menilik Persiapan Pelaksanaan Asesmen Nasional

Menilik Persiapan Pelaksanaan Asesmen Nasional

- Merdeka Belajar
2304

AN itu seperti kaca, sehingga kita tahu mana yang harus diperbaiki, dan AN bukan untuk individu murid tetapi agregat sekolah.

 

GTK – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus mendorong kesiapan pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) melalui berbagai sosialisasi yang melibatkan banyak pihak. Sosialisasi yang dilakukan tidak hanya untuk siswa, guru, dan kepala sekolah, tetapi juga orang tua yang putra dan putrinya akan mengikuti AN.

Dalam sosialisasi melalui webinar Serentak Bergerak: Mempersiapkan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) melalui Digital Literacy, keberadaan AN dimaknai beragam, terutama oleh para orang tua. Masih banyak kerisauan dan kecemasan yang muncul akibat pelaksanaan AN, terutama di bidang sarana dan prasarana karena AN dilakukan berbasis komputer.

Pihak Kemendikbudristek akan mengupayakan apa yang perlu dilakukan sekolah di bawah koordinasi dinas pendidikan, untuk mengoptimalkan peralatan TIK yang dapat menunjang pelaksanaan AN.

Masih ada orang tua yang menganggap AN merupakan pengganti ujian nasional, dan sekolah yang masih berpikir memberikan pelajaran tambahan untuk mendapatkan hasil AN yang baik. Dalam prosedur operasional standar implementasi AN, semua sudah dijelaskan secara teknis, bahwa AN bukanlah ujian. AN, dilakukan sebagai dasar untuk mendapatkan informasi konkret terhadap kualitas pendidikan, baik di level sekolah, maupun kabupaten, kota, dan provinsi.

Dengan AN, dapat mempersiapkan perencanaan pendidikan yang lebih baik berdasarkan hasil yang didapatkan nanti. Baik sekolah, pemda, maupun pemerintah pusat, bersinergi mendorong percepatan kualitas SDM unggul di masa yang akan datang melalui AN.

Koordinator Data dan Statistik, Pusat Data dan Informasi, Kemendikbudristek, L. Manik Mustikohendro, mengatakan ada lima poin penting yang harus disiapkan. Kelima poin tersebut, kata dia, adalah menyangkut kesiapan peserta didik, panitia, infrasutruktur, TIK, listrik, dan jaringan listrik.

Manik menuturkan, kesiapan peserta untuk mengikuti pelaksanaan AN harus diperhatikan. Peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan kepala sekolah ini, perlu memastikan kondisi tubuhnya dalam kondisi baik agar dapat menjalankan asesmen dengan baik. Terkait kesiapan panitia, Manik menyebut ada beberapa pihak yang terlibat, mulai dari panitia itu sendiri, pengawas, dan proktor.

Dari sisi infrastruktur, Manik menjelaskan bahwa semua komputer yang akan digunakan harus dipastikan berjalan dengan baik. Begitu juga dengan tim yang berada di kementerian akan memastikan basis data juga berjalan dengan baik. “Dan yang terakhir itu adalah kesiapan listrik, kita bekerja sama dengan PLN untuk memastikan agar listrik tidak mati selama AN berjalan,” kata Manik pada webinar yang ditayangkan pada kanal YouTube Kemenkominfo TV, Kamis (9/9/2021).

Manik menjelaskan, ada empat dimensi yang perlu dilihat secara holistik integratif dalam pelaksanaan AN. Yang pertama adalah dimensi manajemen, di mana ada empat tahapan yang perlu dilakukan, yaitu perencanaan, penganggaran, implementasi, dan monitoring evaluasi. Dimensi kedua, kata Manik, adalah ekosistem, di mana ada tiga level di dalamnya, yaitu masyarakat, anak, dan peserta didik.

“Peserta didik adalah subset atau bagian dari anak, dan anak adalah bagian dari masyarakat. Kalau berbicara pendidikan, ada pendidikan peserta didik, pendidikan anak atau keluarga, dan ada pendidikan masyarakat. Semua ini terkait, dan tidak bisa kita bicara tentang pendidikan peserta didik tanpa memperhatikan pendidikan masyarakat,” jelasnya.

Dimensi ketiga, lanjut Manik, adalah evaluasi proses belajar mengajar. Selanjutnya, keempat adalah kewenangan yang di dalamnya ada pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. “Nah, ini kenapa disampaikan kembali bahwa dari manajemen tadi tentu akan muncul integrasi,” tuturnya.

Peneliti pada Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, mengatakan, AN dibutuhkan walaupun tidak jadi penentu kelulusan. AN, kata dia, sebagai cermin atau alat deteksi untuk mengetahui kondisi sekolah, dan nantinya mengetahui di bagian mana yang harus diperbaiki. “AN itu seperti kaca, sehingga kita tahu mana yang harus diperbaiki, dan AN bukan untuk individu murid tetapi agregat sekolah,” jelasnya.

Dalam webinar tersebut juga hadir Koordinator Kerja Sama Luar Negeri Universitas Gunadarma, I Made Wiryana, yang melihat AN sebagai pendorong untuk melakukan transformasi digital. Wiryana mengatakan, pemanfaatan teknologi kuncinya ada pada manusia. “Manusia menjadi kunci transformasi digital yang tidak bisa dihindarkan,” katanya.

Dalam menyikapi AN berbasis komputer, Wiryana melihatnya bukan sebagai sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan. Ia mengatakan, yang paling penting dari AN ini adalah bagaimana persiapannya, teknologi yang digunakan, dan prosedur operasionalnya seperti apa. “Tentu saja ketika kita melakukan e-learning di seluruh Indonesia dan di seluruh akademika memiliki banyak kendala-kendala. Tetapi kendala-kendala itulah yang menimbulkan inovasi-inovasi dari para guru dan juga siswa,” jelasnya.

Wiryana berharap, dengan AN berbasis komputer ini menjadi ajang untuk menyiapkan seluruh siswa Indonesia agar memiliki literasi digital yang memadai. Ke depan, SDM unggul yang dimiliki Indonesia bisa menyikapi perkembangan untuk masa yang akan datang.

Selain membahas AN berbasis komputer, webinar ini dilakukan untuk mendorong peningkatan literasi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani. Ia menyebut, Indonesia memiliki indeks literasi digital sebesar 3.17 dengan range 1 sampai dengan 4. “Indeks literasi tersebut membuktikan Indonesia di tingkat sedang. Kominfo dan pemerintah berupaya mengatasi hal tersebut dengan mengadakan seperti yang diikuti sekarang,” pungkasnya.

Headline

Mampukah Sekolah Menjawab Tantangan Zaman?