Apresiasi atas Inovasi Guru Sains se-Indonesia Melalui Gerak Pena

P4TK IPA By Sekretariat GTK 27 November 2021
1731
GTK – Hari Guru Nasional (HGN) 2021 dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya apresiasi bagi guru-guru mata pelajaran IPA yang diwadahi dalam kegiatan Gelar Karya Pendidik Sains Indonesia (Gerak Pena). Kegiatan yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, ini diseleggarakan pada 24-26 November 2021.

Menurut Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) IPA, Enang Ahmadi, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada seluruh guru sains se-Indonesia. Gerak Pena diselenggarakan untuk menjaring inovasi dari para guru sains yang dapat dijadikan model pembelajaran sains di sekolah.

“Bapak dan Ibu yang ikut Gerak Pena ini nantinya tidak hanya mengimplementasikan inovasinya di sekolah saja, tapi bisa mengembangkan inovasinya kepada masyarakat,” tuturnya saat memberikan sambutan penutupan kegiatan Gerak Pena, Jumat (26/11), di Bandung, Jawa Barat.

Enang menyampaikan, P4TK terus mengembangkan berbagai pendidikan dan latihan (diklat) untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Hal tersebut juga diamanatkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, pada peringatan HGN 2021. “Tidak boleh ada guru yang tidak mendapatkan akses ke diklat,” ujar Enang mengulang ucapan Mendikbudristek.

Kegiatan Gerak Pena tahun 2021 mengusung tema “Inovasi Pembelajaran IPA untuk Indonesia Pulih, Tangguh, dan Tumbuh. Ada enam topik inovasi yang diangkat, yaitu: keterampilan ilmiah, literasi ilmiah, kemampuan berpikir integratif (terpadu), keterampilan berpikir solutif, kepedulian terhadap masalah lingkungan, dan kepedulian terhadap masalah kesehatan.

Peserta dalam kegiatan Gerak Pena merupakan guru sains dari jenjang SD, SMP, dan SMA, yang mengirimkan artikel ilmiah terbaik. Artikel tersebut berisi gambaran keterlaksanaan inovasi pembelajaran IPA yang dilakukan oleh guru tersebut, dengan atau tanpa alat peraga. Pembelajaran yang ditulis dalam karya ilmiah ini harus terlaksana dalam rentang maksimal tiga semester terakhir, yaitu antara semester genap tahun ajaran 2019/2020 hingga semester ganjil tahun ajaran 2021/2022.

Dari 463 guru yang mengirimkan karya, dalam waktu tiga hari terpilih 120 karya yang masuk ke babak selanjutnya. Karya ilmiah tersebut kemudian dipilih kembali untuk mendapatkan inovasi yang paling inspiratif, dengan mempertimbangkan empat aspek penilaian. Keempat aspek tersebut yaitu, asli, penting, ilmiah, dan konsisten. Selain karya dalam bentuk karya tulis, para guru juga harus mempresentasikan karyanya di hadapan juri. Saat mempresentasikan karyanya, juri menilai penguasaan materi dan kemampuan menggunakan media.

Salah satu juri, Tatang Sunendar, mengatakan, inovasi yang terpilih untuk menjadi karya inspiratif harus memiliki nilai kebaruan, membawa dampak bagi siswa, dan membawa kebermanfaatan bagi profesi guru itu sendiri. “Itu tiga aspek yang dinilai dalam penilaian karya di Gerak Pena ini,” tutur Widyaiswara P4TK ini.

Koordinator Juri Gerak Pena, Dewi, mengatakan, selama penilaian ia merasakan antusiasme para guru sains untuk mengirimkan karya terbaiknya. Hanya dalam waktu dua minggu sejak pendaftaran dibuka, kata dia, ratusan karya masuk ke dewan juri. Dewi menyebut, dalam Gerak Pena kali ini ada enam juri yang melakukan penilaian.

“Di awal kita sempat santai, karena karya yang masuk belum terlalu banyak. Tapi di hari-hari terakhir, karya membeludak dan kita kerja keras untuk memberikan penilaian terbaik,” ujarnya.

Kata Peserta Terinspiratif tentang Sains dan Gerak Pena

Peserta terinspiratif kedua untuk jenjang SMP, Lufia Krismiyanti, membawa karya yang berjudul Metode Situte (Si Tukang Tempe) berbasis table stamp untuk melatih keterampilan dan kreativitas siswa di masa pandemi. Guru SMP Negeri 1 Brebes ini menggunakan Situte untuk melatih keterampilan anak di materi bioteknologi konvensional. Anak-anak mempraktikkan pembuatan tempe di rumah masing-masing, membuat desain, dan mempromosikan produknya melalui media sosial masing-masing.

Lufia mendapatkan informasi terkait Gerak Pena dari rekan sesama guru. Dengan modal Situte, Lufia mengirimkan artikel ilmiahnya, dan masuk dalam 120 karya terpilih. Selama kegiatan, Lufia mengaku menerima pemaparan dari widyaiswara dan mempresentasikan karyanya. Lufia mengaku senang karena Gerak Pena bisa mewadahi inovasi yang dilakukannya.

“Ini event yang sangat luar biasa dan kami tunggu. Karena di Gerak Pena ini akan lahir karya ilmiah baru dan akan didiseminasikan oleh guru seluruh Indonesia, sehingga bisa dimanfaatkan oleh guru lainnya se-Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan Lufia, guru biologi kelas XI-XII SMA 1 Negeri 1 Seulimeum, Aceh, Maria Ulfa, menjadi guru inspiratif pertama untuk jenjang SMA. Membawa artikel Inovasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) melalui pemanfaatan televisi edukasi (TVE) dan penerapan model project-based learning dengan praktikum mandiri dengan memanfaatkan limbah yang ada di lingkungan siswa, untuk mencegah learning loss.

Ulfa mengatakan, karena pandemi dan pembelajaran jarak jauh di sekolah, sinyal koneksi internet susah dan aplikasi internet masih awam bagi siswa sehingga terjadi learning loss. Sejak PTMT, kata dia, pada saat PTMT di Aceh dilakukan shift (50 persen jumlah siswa). “Karena pengurangan jam pelajaran dari 45 menit menjadi 30 menit dalam 1 JP, maka terjadi lagi learning loss,” ujarnya.

Kemendikbudristek mempunyai program dari TVE, tanpa iklan yang tidak merusak karakter siswa. Saya gunakan TVE untuk siswa yang daring, nanti ada pantauan dengan mengirim resumenya. Untuk biologi tidak bisa lepas dengan praktikum, tapi karena PTMT maka praktikum sulit dilaksanakan di sekolah. Praktikum yang saya lakukan dengan project-based learning, dengan menggunakan alat praktikum dari limbah yang ada di sekitar mereka. Hasil dari rancangan mereka jika dikembangkan dengan baik bisa dimanfaatkan oleh sekolah yang kekurangan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan praktikum.

“Saya guru honorer namun mau menjadi guru yang bisa menginspirasi guru honorer lain, karena guru mulia karena karya. Niat saya tulus untuk menginspirasi banyak orang, dan ini ajang nasional, banyak guru dari berbagai daerah ikut ke sini, dengan sharing di sini akan banyak guru lain yang terinspirasi,” ujarnya.

Ulfa berharap agar semakin sering diadakan ajang seperti ini dan lebih banyak lagi guru di daerah yang bisa ikut terlibat. “Karena cerita dari teman-teman di sini mereka walaupun tidak sempat menjadi juara tapi mereka membawa pulang oleh-oleh ilmu dari teman-teman di sekolah lain,” tuturnya.

Bagikan artikel ini

Berita Terkini