Mengenal Filosofi “Penggerak”

Mengenal Filosofi “Penggerak”

- Guru Penggerak
1146

Dimensi sosial, empati, merupakan kata kunci dari filosofi penggerak.

 

GTK, Jakarta – Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril turut hadir pada Forum Silaturahmi Jilid II bersama dengan Organisasi/Asosiasi/Komunitas Profesi Guru melalui aplikasi Zoom pada Sabtu (11/7/2020).

Pada sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan terungkap, di antaranya mengenai diksi “Guru Penggerak”, dari mana gagasan cerdas ini didapatkan? Diksi “Penggerak” sendiri begitu lekat pada konteks Kemendikbud di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Terdapat “Guru Penggerak”, “Sekolah Penggerak”, “Organisasi Penggerak”, merupakan sejumlah konsep yang telah diarusutamakan oleh Kemendikbud.

“Tentang kata-kata penggerak, ini sebenarnya filosofinya adalah gotong royong. Bahwa dalam konteks gotong royong, penggerak ini kan filosofinya, kalau guru penggerak, sekolah penggerak, organisasi penggerak, ia tidak hanya baik untuk ekosistemnya saja, tapi bisa mengajak yang lainnya, memberdayakan yang lainnya, bisa maju bersama-sama,” kata Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril, Sabtu (11/7/2020).

Dimensi sosial, empati, merupakan kata kunci dari filosofi penggerak.

“Jadi dia berdaya sebagai seorang penggerak, dia pun mencoba untuk terus belajar, pada saat yang bersamaan dia sudah guru yang baik, dia bisa juga membuat guru yang lainnya menjadi baik. Dia bisa merangkul dan kemudian menggerakkan yang lainnya. Jadi ada dimensi sosialnya. Tidak cukup hanya dimensi secara individu, tapi dia dimensinya sosial. Penggerak itu ada dimensi sosialnya,” terang Iwan Syahril.

“Ada tanggung jawab sosial untuk menggerakkan, mengambil beban tanggung jawab lebih dan ini passion-nya lebih dari sekadar untuk dirinya sendiri atau institusinya sendiri. Kita tidak bisa sendirian, kita memiliki empati, tanggung jawab sosial, itu yang menjadi motivasi untuk bergerak bersama-sama,” tambahnya.

Semangat bergerak bersama inilah yang akan berdampak akseleratif bagi Indonesia.

“Yang kita lihat Indonesia potensinya sangat luar biasa, komunitas pendidikan, organisasi, asosiasi banyak sekali, mengerjakan hal-hal yang luar biasa, tapi kita sepertinya bergerak terpisah-pisah, terisolasi sendiri-sendiri, kalau kita bisa dengan semangat gotong royong, ini bisa mudah-mudahan menghasilkan sebuah energi dan dampak yang luar biasa untuk tujuan kita bersama,” ungkap sosok yang akrab dipanggil Mas Dirjen tersebut.

Gotong royong sejatinya merupakan DNA Indonesia serta menjadi modal utama dalam upaya menuju Indonesia maju.

“Dari Mas Menteri usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan sesuai dengan ekspektasi kita, arahan dari pak Jokowi juga, tidak mungkin hanya program-program pemerintah, ini harus menjadi gerakan kita bersama, gerakan nasional. Jadi filosofi gotong royong sangat relevan dan itu keunikan bangsa kita,” jelas Iwan Syahril.

Bekal gotong royong juga menjadi akselerasi untuk bersaing dengan negara lain. “Nilai utama kita yang bisa membedakan dari negara lain sehingga kita bisa lebih baik daripada negara lain, itu adalah gotong royong. Jadi itu menjadi modal utama kita. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, itu kata pepatah. Jadi kita bareng-bareng untuk menguatkan tujuan kita bersama. Tujuan kita untuk Indonesia, anak-anak Indonesia, sehingga kebersamaan dan kemitraan semakin kuat. Dengan menggandengkan tangan berbagai macam kekuatan saling isi mengisi,” ungkap Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril.

Berita Terkait

Headline

Mendikbud: Pendidikan Berbasis Kompetensi dan Karakter Berawal dari Guru