Trending Now

Membedah Filosofi "Man Jadda Wajada"

Membedah Filosofi "Man Jadda Wajada"

GTK, Jakarta – Pada Sabtu malam (20/2/2021) Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril menyapa dan berbagi melalui Live Instagram. Pada Sapa GTK 3: Guruku Inspirasiku, selama sekitar 90 menit, Mas Dirjen ditemani penulis Trilogi Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi.

Pada kesempatan tersebut Bang Fuadi menerangkan filosofi kalimat-kalimat sakti dari seri novelnya. Di antaranya Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).

“Waktu saya sampai di Gontor itu dengan kondisi state of mind yang anak ABG kurang happy-lah. Kemudian ada yang mengagetkan, ternyata di pesantren yang dulu saya bayangkan akan ya begitu-begitu saja, ternyata lebar,” kata Ahmad Fuadi.

“Lebar dalam fisik dan juga pergaulan. 3.000 orang di pesantren, di sebuah kampung. 3.000 orang ini datang dari Sabang sampai Merauke, plus dari luar negeri. Jadi ada santri dari Singapura, Malaysia, Australia, Afrika, segala macam. Tiba-tiba saya merasa menjadi orang Indonesia dan menjadi warga global di saat yang sama,” terang alumnus Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini.

Bang Fuadi untuk kemudian menjelaskan secara teatrikal mengenai awal mula diperkenalkannya “Man Jadda Wajada”.

“Di minggu pertama, ada pelajaran namanya Mahfudzot. Pelajaran Mahfudzot itu isinya adalah kata-kata mutiara berbahasa Arab, yang digunakan untuk, menurut saya nih stimulasi bahasa, stimulasi value,” kenang Fuadi tentang kejadian berbilang tahun yang lampau.

Nyatanya kata-kata mutiara diajarkan dengan cara yang keren. Ustaz yang mengajarkannya masih muda, bersemangat, memakai baju lengan panjang putih yang masih ada bekas setrikanya, serta memakai dasi.  

“Dia masuk dia teriak ‘Man Jadda Wajada’, kita kaget, siapa ini masuk teriak-teriak. Dan kemudian dia suruh, ayo teman-teman, anak-anak semua, kita teriak ramai-ramai ‘Man Jadda Wajada’. Kita enggak ngerti apa, kita teriak saja, teriak yang keras, sampai suara kita habis,” jelas Fuadi.

“Jadinya semangat banget, sampai suara habis dan kemudian dia cerita, pegang kata-kata ini seumur hidup kalian. Ini artinya ‘Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil’,” ungkap Fuadi.

Fuadi yang sedang mempersiapkan novel Buya Hamka ini, untuk kemudian menjelaskan lebih lanjut filosofi Man Jadda Wajada”.

“Dan kemudian dia berceritalah berbagai kisah tentang bagaimana kalau seorang itu berjuang habis-habisan, suatu ketika dia akan sampai di tujuannya. Jadi lebihkan usaha di atas rata-rata orang lain. Kesungguhan yang penting. Jangan berdoa saja. Berdoa saja enggak cukup, usaha,” urai Fuadi.

Ahmad Fuadi pun menelaah metode pembelajaran yang dilakukan ustaznya di Pondok Pesantren Gontor tersebut.

“Jadi diajarkan dengan cara yang unik. Jadi kita disuruh berteriak, lalu dituliskan, lalu diceritakan, jadi semua sensoris dipakai. Dan itu masuk ke dalam alam bawah sadar kita, saya pikir,” analisa Fuadi.

Komentar

Back to top