Trending Now

Webinar Internasional: Dirjen GTK Diskusi bersama 3 Tokoh Pendidikan Internasional

Webinar Internasional: Dirjen GTK Diskusi bersama 3 Tokoh Pendidikan Internasional

GTK - Penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Berbagai cara dan protokol kesehatan pun diterapkan untuk menghentikan rantai penyebaran penyakit akibat infeksi virus tersebut.

Akibat dari pandemi ini memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan. Bidang pendidikan termasuk terkena dampak dari pandemi Covid-19 ini. Dan selama pandemi ini melanda masyarakat dunia, bidang pendidikan mengalami perubahan yang fundamental.

Dalam Webinar yang diselenggarakan tim GSL yang berjudul "Sistem Pendidikan, Kepemimpinan Sekolah, dan COVID" ini sejumlah tokoh pendidikan telah membagikan wawasan mereka tentang kebutuhan sistem pendidikan di negara mereka masing-masing. 

Webinar yang dimoderatori oleh Cheryl Ann Fernando menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan yakni Menteri George Werner (Liberia), Dr. Sara Ruto (Kenya), Dr. Praveen Kumar (India) dan Dr. Iwan Syahril (Indonesia). 

Keselamatan dalam melakukan kegiatan pembelajaran menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Maka itu sebelum kita berpikir tentang pembelajaran online dan membuka kembali sekolah kita perlu memastikan bahwa kebutuhan dasar anak-anak akan makanan, kesehatan, dan kesejahteraan emosional terpenuhi.

Menyoroti hal tersebut Menteri George Werner (Liberia) mengatakan perlunya mempersiapkan para guru dan pemimpin sekolah untuk memenuhi kebutuhan psiko-sosial anak-anak yang telah melalui keadaan yang sulit selama pandemi ini. 

“Pemerintah harus berkoordinasi di berbagai lembaga untuk memastikan bahwa tanggapan dunia pendidikan terhadap Covid-19 sejalan dengan proses penguatan pendidikan jangka panjang. Hal ini harus dikomunikasikan oleh semua tingkatan pemerintahan dengan cara yang jelas kepada seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya. 

Pendekatan berdasarkan infromasi juga penting dilakukan. Upaya terbaik adalah yang diinformasikan oleh data dari lapangan. “Survei cepat dapat menghasilkan wawasan yang sangat berguna tentang kebutuhan masyarakat dan harus digunakan sejauh mungkin,” imbuhnya. 

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Iwan Syahril mengatakan dalam kondisi seperti pemberdayaan terhadap pemimpin sekolah harus dilakukan. Pasalnya mereka adalah suara harapan dan pemimpin yang terpecata di masyarakat.

Menurutnya mereka harus diberdayakan untuk mengambil pembelajaran lembaga-lembaga nasional dan internasional serta menerjemahkannya ke dalam pendekatan kontekstual untuk komunitas mereka. Maka itu Iwan mengusulkan untuk memikirkan pemimpin sekolah sebagai “Chief Innovation Officers” (Kepala Pejabat Inovasi) dalam sistem pendidikan.

Sementara itu, Praveen mengatakan melibatkan orang tua dan siswa dalam pembelajaran anak. Seperti yang dicatat olehnya di banyak komunitas tugas pendidikan telah diserahkan kepada sekolah tetapi sekarang orang tua dan siswa sendiri telah mengambil tugas mengelola pembelajaran. 

“Momentum ini harus berlanjut dan kita mesti menemukan cara untuk mendorong keterlibatan ini,” ajaknya. 

Fokus pada yang paling terpinggirkan

Ketika sekolah dibuka kembali, kita cenderung melihat berbagai cara di mana jarak fisik diberlakukan dan sumber daya perlu diprioritaskan untuk ini. Selama waktu ini, fokus awal harus pada anak-anak yang paling terpinggirkan (marginal) sehingga ketidaksetaraan yang terekspos oleh krisis Covid-19 tidak diperparah.

Maka itu GSL mendorong untuk mempelajari lebih lanjut tentang pekerjaan yang dilakukan para pelaku pendidikan di Kenya, India, Malaysia, dan Indonesia untuk mendukung sistem pendidikan mereka agar secara efektif memanfaatkan kepemimpinan sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan siswa dan pembelajaran selama krisis ini.

Di Kenya, Dignitas telah meluncurkan program Leaders of Learning (Pemimpin Pembelajaran) untuk melatih dan melatih para juara komunitas agar siswa tetap aman dan belajar.

Di India, Alokit telah meluncurkan Project Light (Proyek Cahaya), program kepemimpinan krisis untuk para kepala sekolah negeri dan swasta di seluruh India. 

Di Malaysia, Pemimpin GSL, dalam kolaborasi dengan Brain & Company dan Tech for Malaysia baru-baru ini merilis seperangkat pedoman untuk para pemimpin sekolah. 

Di Indonesia, Inspirasi merilis pedoman untuk para pemimpin sekolah yang telah diadopsi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagai kesimpulan tim GSL terinspirasi komentar dari Iwan Syahril mengenai “Menjadi nyaman dengan ketidaknyamanan". Pandemi Covid-19 telah memaksa kita untuk berpikir di luar dari jalan pikir yang kita nyaman selama ini. Dan kita perlu menahan perasaan ini saat kita mulai merancang pendidikan masa depan. 

“Kami mendorong Anda untuk membagikan pemikiran Anda kepada kami tentang apa yang Dr. Sara gambarkan sebagai "komitmen yang kami miliki untuk semua anak bahwa mereka akan mendapatkan pendidikan yang berkualitas," ujar Tim GSL.

(Video lengkap webminar internasional di atas dapat diakses pada https://www.youtube.com/watch?v=GvU7RMrg5p0&feature=youtu.be)

Komentar

Back to top