Pentingnya Bina Diri Bagi Siswa Tunagrahita

Pentingnya Bina Diri Bagi Siswa Tunagrahita

- GTK DIKMEN & DIKSUS
3249

Pentingnya Bina Diri inilah Iyus Hermansyah membuat Media Video Pembelajaran Bina Diri Terhadap Peningkatan Kemampuan Merawat Diri Anak Tunagrahita.

 

GTK, Jakarta –  Bina diri  jarang sekali disentuh  oleh para guru.  Padahal ini merupakan materi yang sangat penting bagi anak penyandang tunagrahita.

Pentingnya bina diri bagi anak penyandang tunagrahita menjadi dasar  Iyus Hermansyah  untuk melakukan penelitian. Tema penelitian yang dia lakukan adalah “Media Video Pembelajaran Bina Diri Terhadap Peningkatan Kemampuan Merawat Diri Anak Tunagrahita Sedang Kelas VI di SKh Negeri 01 Kabupaten Lebak”. Berbekal tema inilah dia menjadi peserta pada ajang  Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2019 pada katagori lomba Guru SDLB Kreativitas.

Bina diri yang dia lakukan dalam penelitian adalah menggosok gigi.  Tema ini pasti dianggap sepele bagi kebanyakan orang. Namun, bagi anak penyandang tunagrahita yang mengalami hambatan dalam intelektual ini sangatlah penting.  Sebab, tidak semua anak bisa melakukan gosok gigi secara benar sesuai tahapan. Melalui media video inilah dia ingin memberikan tuntunan atau arahan bagaimana menggosok gigi dengan benar dan sesuai tahapan.

“Pemeran pada video tersebut saya sendiri. Ini merupakan cara yang efektif, sebab mereka  memerlukan arahan dan tuntunan  dari gurunya dalam melakukan tahapan-tahapan dari persiapan menyiapkan bahan, menggosok giginya seperti apa, sampai merapikan alat menggosok giginya. Bagi kita mudah, bagi mereka ini merupakan suatu hal yang sulit,” ujarnya usai mempresentasikan hasil penelitian di Century Park Hotel, Senayan, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Dia menjelaskan  bina diri sangat jarang disentuh oleh guru-guru lain. Kebanyakan  guru-guru  menggarap unsur akademik seperti menulis,  membaca, dan berhitung.  Padahal ini sangat penting karana tujuan akhir dari pendidikan bagi anak  tunagrahita adalah menciptakan anak yang mandiri. 

“Kenapa bina diri?  Karena kebutuhan khusus untuk anak tunagrahita ending goal-nya adalah merawat diri dan mandiri saat hidup di tengah masyarakat. Ketika tidak bisa hidup mandiri berarti peran dan fungsi gurunya di sekolah belum tercapai,” imbuhnya.  

Dia pun menjelaskan mengapa mengambil aspek gosok gigi. Menurutnya gosok gigi lebih utama bagi mereka. Kalau gigi sakit akan terasa semua badan. “Setelah giginya kuat dan sehat maka akan melakukan bina diri yang lain. Ini adalah tahapan awal, setelah itu mandi, pakai sepatu, menyisir rambut dan hal-hal lainnya,” imbuhnya.

Dia mengatakan media pembelajaran yang dilakukan ini terbilang efektif. Sebab, siswa-siswa yang menerima pembelajaran tersebut memberikan dampak yang signifikan.  “Dari anak-anak yang belum bisa menggosok gigi dengan baik sekarang bisa dan sesuai dengan tahapan yang seharusnya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, dia mengapresiasi dengan diadakannya  ajang Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019. Menurutnya kegiatan ini sangat baik dan memberikan motivasi bagi para guru untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya dalam menyiapkan media pembelajaran.  “Kami memberikan apresiasi kepada Kemendikbud karena telah menyelenggarakan  acara ini. Ini adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kami dalam menunjukkan karya kami selama di sekolah. Ini adalah kegiatan yang membahagiakan bagi para guru,” ujarnya.

Berita Terkait

Headline

Peraturan Direktur Jenderal GTK Tentang Renstra Ditjen GTK Tahun 2020-2024