Pengalaman Mengikuti Seleksi Program Pendidikan Guru Penggerak

Pengalaman Mengikuti Seleksi Program Pendidikan Guru Penggerak

- Guru Penggerak
6034

Dihadapkan pada menulis 50 sampai 200 kata per pertanyaan, dimana ada 19 pertanyaan.

 

GTK, Jakarta - Program Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 9 bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama pelaksanaan program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru.

Bagi Muhammad Takdir yang sedang mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1, keikutsertaannya di program tersebut membutuhkan dukungan orang-orang terdekatnya.

“Saya melihat informasi tentang Pendidikan Guru Penggerak di portalnya, bukan main 9 bulan pendidikan. Selain saya minta dukungan dari kepala sekolah, saya harus minta dukungan dengan teman hidup saya, itu penting,” kata guru Matematika SMAN 6 Wajo, Sulawesi Selatan, Muhammad Takdir pada webinar bertema “Melahirkan Pemimpin Pendidikan Melalui Guru Penggerak”, Senin (2/11/2020).

Untuk menjadi guru penggerak, guru harus lulus seleksi tahap 1 (CV, Esai, Tes Bakat Skolastik) dan tahap 2 (Simulasi Mengajar dan Wawancara) dan mengikuti pendidikan guru penggerak selama sembilan bulan. Terkait seleksi, Takdir mengungkap pengalamannya ketika mengerjakan tes esai.

“Selama proses yang paling berat menurut saya pada saat menulis esai. Saya sebenarnya guru Matematika, jadi dihadapkan pada menulis 50 sampai 200 kata per pertanyaan, dimana ada 19 pertanyaan, itu yang membuat saya harus berpikir, mengembangkan pikiran, dan meramu kata-kata sehingga bisa memenuhi target itu,” terang Takdir.

“Baru saya lakukan pada saat tengah malam, di saat jaringan bagus. Pikiran saya, mungkin 1 jam bisa selesai, ternyata itu hampir 3 jam baru selesai,” sambungnya.

Guru Harus Terus Belajar

Terkait dengan motivasi mengikuti Pendidikan Guru Penggerak, Takdir mengaku ingin berbagi praktik baik pembelajaran dan berkolaborasi.

“Niat awal saya ingin berbagi, dengan mengikuti guru penggerak ini, saya bisa berkolaborasi dengan lebih banyak orang,” jelasnya.

Takdir untuk kemudian menekankan pentingnya guru untuk terus belajar sebagai bagian dari adaptasi terhadap zaman.

“Sebagai guru saya menyadari bahwa saya harus tetap belajar. Pernah ada celoteh anak saya yang umur 7 tahun ‘bapak kok baca terus, bapak kok belajar terus, bapak kan sudah jadi guru, kenapa mesti belajar lagi’. Di situ yang saya sampaikan bahwa bukan berarti kita sudah menjadi guru berhenti belajar,” terang Takdir.

“Melalui Program Guru Penggerak ini menjadi pelecut, penyemangat untuk terus belajar, merespons perubahan yang terjadi. Salah satu pemikiran Ki Hajar Dewantara, didiklah murid, didiklah anak sesuai dengan zamannya. Jadi kita tak bisa lagi membandingkan dengan saat kita sekolah dengan saat sekarang ini,” imbuh peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1, Muhammad Takdir.

Berita Terkait

Headline

Dirjen GTK Berbagi Cerita Bangga Jadi Guru