Pendidikan yang Memerdekakan, Memanusiakan, dan Berpihak pada Murid

Pendidikan yang Memerdekakan, Memanusiakan, dan Berpihak pada Murid

- Guru Penggerak
8984

Dirjen GTK Kemendikbudristek, Iwan Syahril dalam Siniar #PojokDikbud dengan tema “Pendidikan yang Memerdekakan, Memanusiakan, dan Berpihak pada Murid”.

 

GTK, Jakarta – Dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar berbagai kegiatan. Salah satunya adalah Siniar #PojokDikbud dengan narasumber seluruh pejabat Eselon I Kemendikbudristek yang dapat disaksikan di kanal YouTube Kemendikbud RI.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbudristek, Iwan Syahril dalam Siniar #PojokDikbud dengan tema “Pendidikan yang Memerdekakan, Memanusiakan, dan Berpihak pada Murid”. Dalam siniar yang dipandu oleh Dea Rizkita tersebut, Mas Dirjen banyak mengupas tentang Guru Penggerak. Guru Penggerak adalah pemimpin perubahan pendidikan yang memerdekakan, yang memanusiakan, yang berpihak pada murid. Siniar #PojokDikbud tersebut dapat disimak di: https://youtu.be/g6f0lOiHrII.

“Yang menjadi dasar kita adalah sebuah kesadaran atau komitmen untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang memerdekakan, pendidikan yang memanusiakan, dan berpihak pada murid. Dalam hal ini kita melihat Bapak Pendidikan kita itu adalah sumber inspirasi yang luar biasa. Kita melihat pemikiran Ki Hadjar Dewantara itu sangat sesuai dengan tantangan zaman, juga dengan konteks kita saat ini,” kata Dirjen GTK Kemendikbudristek, Iwan Syahril.

Seperti semboyan Ki Hadjar, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, nilai utama setiap pendidik di Indonesia adalah menjadi teladan, pembangkit semangat, dan pemberdaya menuju kemerdekaan peserta didik.

“Jadi sebenarnya logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tut Wuri Handayani, sebuah komitmen, bahwa kita harus mencetak manusia-manusia yang merdeka. Itulah yang sebenarnya diinginkan dari filosofi Ki Hadjar Dewantara,” tutur Iwan.

Sesuai dengan kodrat zaman, Presiden Joko Widodo sudah menyatakan kita harus fokus pada sumber daya manusia (SDM), kita harus melakukan inovasi, terobosan, dan berfokus kepada outcome.

“Di sinilah kita melihat oke, gimana ya kita selama ini, outcome kita, ada bersekolah apakah belajar?” refleksi dari Iwan Syahril. “Kita akses semakin bagus, tapi kualitas hasil belajar kita masih belum sampai pada hal yang kita harapkan. Kita harus membuat sebuah lompatan.”

Maka pada Merdeka Belajar Episode 5, Program Guru Penggerak diluncurkan. Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

“Dari Mas Menteri menggagas Guru Penggerak, kita ingin adanya pemimpin. Pemimpin yang tahu bagaimana pembelajaran yang memerdekakan, yang berpihak pada murid itu, bisa menjadi teladan, enggak cuma ngomongin doang. Dia harus bisa mencontohkan, menjadi coach atau mentor buat guru-guru yang lain,” jelas Iwan Syahril.

Kualitas kepemimpinan berdampak signifikan terhadap efektivitas sekolah (Hallinger dan Heck 1998; Gurr et al. 2005; Leithwood et al. 2008; Dinham 2005; Fullan 2014). Peran pemimpin sangat krusial dalam membawa perubahan dalam kualitas belajar siswa. Walaupun banyak faktor-faktor lain yang juga memengaruhi kualitas belajar siswa, seperti pengajaran guru di kelas (Leithwood, et al. 2006), pemimpin sekolah memegang peranan penting dalam menyinergikan berbagai macam variabel-variabel yang ada di dalam dan luar sekolah, agar semua murid dapat belajar dengan baik.

Barber, Miller, dan Clark (2010) menjelaskan bahwa kepala sekolah yang berkualitas tinggi di negara-negara dalam studi ini lebih menekankan fokus pada kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) dan mengembangkan kemampuan guru-guru di sekolah mereka. Orientasi kepala sekolah ini bukan lagi pada masalah administratif dan operasional melainkan pada peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Keterampilan yang paling diutamakan para sekolah ini adalah keterampilan untuk melatih/membimbing (coaching) guru dan staf lainnya dan mendukung perkembangan mereka.

“Kita melihat juga kajian secara literatur, bagaimana membuat sebuah lompatan dalam suatu sistem pendidikan dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, salah satu keputusan terpenting dalam sistem pendidikan itu adalah keputusan siapa yang jadi pemimpin-pemimpin di satuan pendidikan kita atau dalam sebuah sistem pendidikan,” terang Dirjen GTK Kemendikbudristek.

“Karena itu kita melihat instructional leadership atau pemimpin yang bisa fokus pada pembelajaran ini menjadi hal yang penting. Bayangkan di seluruh Indonesia, kepala sekolah, pengawas sekolah, bahkan sampai ke Dinas Pendidikan, itu orang-orang yang tahu, ngerti. Tidak hanya student-centered learning, tapi nanti student-centered program, dan student-centered policy, jadi itu berpusat dan fokusnya kepada murid dan pembelajarannya,” sambung Iwan Syahril.

Dengan ekosistem pendidikan, dimana kepala sekolah, pengawas sekolah telah memiliki visi berpihak pada murid, maka peningkatan kompetensi dari guru dan tenaga kependidikan, fondasi utamanya dapat dimulai dari sekolah.

“Kepala sekolahnya bisa menjadi leader-nya, bisa men-coach, dan menggerakkan komunitas belajar yang utama terutama di sekolah, nanti tentunya bisa berjejaring dengan sekolah lain,” harap Iwan.

“Inilah yang kita harapkan, mudah-mudahan mencapai visi SDM unggul yang diinginkan. Mudah-mudahan 24 tahun lagi Indonesia Emas bisa kita capai,” sambung Dirjen GTK Kemendikbudristek, Iwan Syahril.

Headline

Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan