Mewujudkan SDM Unggul di Sekolah Penggerak

Mewujudkan SDM Unggul di Sekolah Penggerak

- Sekolah Penggerak
600

Mentransformasi sekolah dengan semua ide-ide inovasi dan kebebasan untuk berinovasi.

 

GTK, Jakarta - Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Kepala sekolah dan guru dari Sekolah Penggerak melakukan pengimbasan kepada satuan pendidikan lain.

Program Sekolah Penggerak adalah program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari 5 jenis intervensi untuk mengakselerasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran.

Pada Sapa GTK 9: Dari Guru, Sampai Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril berkesempatan untuk belajar dan berbagi dengan Wahyana dan Qomarul Lailiah. Sahabat Guru dan Tenaga Kependidikan dapat mereguk inspirasinya di akun Instagram @dirjen.gtk.

Wahyana, guru PJOK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 4 Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. SMPN 4 Patuk merupakan salah satu Sekolah Penggerak.

“Sekolah Penggerak nanti ada eksperimentasi, berbagai macam inovasi pembelajaran,” kata Dirjen GTK Kemendikbudristek, Iwan Syahril, Sabtu (7/8/2021).

“Bakal seru 3 tahun ke depan, Pak Yana mentransformasi sekolah dengan semua ide-ide inovasi dan kebebasan untuk berinovasi, karena itu yang kita inginkan,” sambung Mas Dirjen.

Iwan Syahril menjelaskan lebih lanjut bahwa Sekolah Penggerak sesuai dengan semangat UU Sisdiknas, di mana otonomi itu ada di sekolah, manajemen berbasis sekolah.

Program Sekolah Penggerak berbeda dengan program sekolah model atau sekolah rujukan. Perbedaannya adalah, Program Sekolah Penggerak:

a. Merupakan program kolaborasi antara Kemendikbudristek dengan Pemerintah Daerah

b. Terdiri dari 5 jenis intervensi yang terintegrasi berupa pendampingan konsultatif dan asimetris kepada Pemerintah Daerah, pelatihan dan pendampingan kepala sekolah dan guru, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data, dan digitalisasi sekolah

c. Memiliki ruang lingkup untuk jenjang PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB, baik sekolah negeri dan swasta mencakup seluruh kondisi

d. Dilakukan secara berkelanjutan, hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Sekolah Penggerak

 

Program Sekolah Model atau Sekolah Rujukan merupakan program Pusat dengan intervensi parsial, berupa:

a. Bimtek

b. Bantuan Pemerintah

c. Ruang lingkup tidak mencakup seluruh kondisi sekolah

 

Mas Dirjen menerangkan lebih lanjut bahwa program Sekolah Penggerak sejalan dengan semangat pemberdayaan dan kemandirian sekolah.

“Teorinya begini kalau pemimpinnya bagus, sebenarnya ekosistem sekolah kita, guru-guru kita bisa maju, dimulai pondasinya di sekolah. Enggak harus nunggu dulu ada workshop penugasan, tapi dari sekolahnya bisa mengelola peningkatan kompetensi,” ujar Iwan Syahril.

“Jadi walaupun sekolahnya berada di daerah yang sulit, sekolah yang masih banyak tantangan, tapi kalau leader-nya bagus, itu terseleksi untuk jadi Sekolah Penggerak,” tambahnya.

Semangat belajar dan berbagi merupakan kunci dari transformasi pendidikan.

“Kebersamaan, kita kan ada ekosistem yang saling membantu. Belajar dari berbagai macam feedback. Kunci dari guru kita untuk bisa bangkit bukan ada guru-guru yang hebat sendirian, justru setelah terbentuk komunitas yang saling mendukung, saling menguatkan, saling memberikan feedback, dan mau untuk belajar dan bergerak maju,” terang Dirjen GTK.

Iwan memandang aneka program Kemendikbudristek memberdayakan para pemimpin pembelajaran.

“Itulah yang kita inginkan untuk generasi baru pemimpin-pemimpin kita di sekolah. Dengan adanya program Guru Penggerak, Sekolah Penggerak, itu kan sebenarnya leadership, leadership yang kita inginkan,” ucap Dirjen GTK Kemendikbudristek, Iwan Syahril.

“Kita yakin pada akhirnya yang akan membuat perbedaan, yang tahu kondisi lapangan dan inovasi-inovasi yang sesuai dengan kondisi sekolah, kondisi murid-muridnya, itu adalah para guru-guru. Kalau kepala sekolahnya bisa menjadi coach, mentor, itu akan mengangkat ekosistem sehingga bisa melakukan transformasi dan inovasi,” imbuh Iwan Syahril.

Headline

Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pendidikan yang Mampu Jawab Tantangan Zaman