Merayakan Keberagaman di Sekolah Inklusi

Merayakan Keberagaman di Sekolah Inklusi

GTK, Jakarta - Sekolah Inklusi adalah sekolah reguler (non-SLB) yang juga melayani pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Salah satu sekolah inklusi di Indonesia yakni SMAN 66 Jakarta. Guru Geografi SMAN 66 Jakarta, Eulis Tigin Rakhmawati membagi pengalamannya kala memberikan pembelajaran bagi ABK di sekolah inklusi.

“Kami sebelum melaksanakan pembelajaran di kelas ada persiapan, di antaranya menyiapkan RPP, media pembelajaran, strategi, saya akan memaksimalkan di persiapan itu,” kata Eulis beberapa waktu lalu.

“Di sini ada beberapa, ada yang tunanetra, tunarungu, autis, tunadaksa, semuanya ada di sini, kita melayani semua. Untuk tunanetra, medianya saya bikin yang sederhana saja. Kalau medianya di laboratorium tidak ada, saya buat sendiri, misalnya dari karton atau kardus, yang bisa diraba oleh anak apabila itu berupa gambar,” sambungnya.

Eulis bercerita kompaknya gotong royong serta kebersamaan di SMAN 66 Jakarta.

“Semua aturan, tata tertib, kegiatan baik ekstrakurikuler, intrakurikuler, semuanya melibatkan siswa, tidak ada yang dipisah-pisahkan atau pun dibeda-bedakan. Karena siswa normal pun mereka sudah tahu SMAN 66 ini sekolah inklusi, maka mereka pun menghargai siswa inklusi,” terangnya.

Ia mencontohkan kebersamaan itu kala olahraga, ke kantin, ke masjid, gotong royong itu mewujud dalam laku. “Yang tunanetra jalannya di depan, yang normal di belakang memegang pundaknya. Mereka sangat menghargai keberagaman, mereka bersama-sama, semua kegiatan yang ada di sini, semua siswa ikut terlibat,” urai Eulis.

Tripusat pendidikan yakni keluarga, sekolah, masyarakat pun diharapkan berkolaborasi untuk menghadirkan ekosistem pendidikan yang bermakna.

“Kita memerlukan segitiga kolaborasi ini, itu harus dibantu dan didukung oleh orang tua. Seperti misalnya orang tua tidak menyerahkan anaknya begitu saja, orang tua di rumah pun harus ikut terlibat, dengan cara men-support anaknya. Ditanyakan di sekolah hari ini ada kendala tidak, ada yang diperlukan tidak, Orang tua dapat membantu menyiapkan media pembelajaran dari rumah.” terang perempuan berjilbab ini.

Kemajuan teknologi pun berperan dalam aneka media pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.

“Untuk evaluasi Penilaian Akhir Semester (PAS), penilaian akhir tahun (PAT), kita sekarang sudah menggunakan yang berbasis aplikasi. Nah aplikasi yang kita pilih pun yang ramah difabel semua,” jelas Eulis.

“Kita menggunakan JAWS, TOS, SiPintar, Quizizz, aplikasi itu yang guru-guru terapkan sehingga pada saat pelaksanaan evaluasi baik siswa normal maupun inklusi bisa sama-sama melaksanakan kegiatan tersebut,” imbuh Guru Geografi SMAN 66 Jakarta, Eulis Tigin Rakhmawati.

Komentar

Back to top