Mengemas Calistung dengan Cara Menyenangkan

Mengemas Calistung dengan Cara Menyenangkan

- GTK PAUD
1187

Bagaimana kita mengemas itu menjadi salah satu kegiatan bermain yang secara tidak sadar mereka sedang diajak belajar sebenarnya, misalnya dengan cara permainan tradisional dengan menghitung.

 

GTK, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, kemitraan antara lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan orang tua dan masyarakat harus terjalin dengan baik dalam menerapkan pendidikan karakter bagi anak usia dini. Pendidik di lembaga PAUD maupun orang tua harus memahami konsep bermain dan belajar.

Mendikbud mengatakan, yang terpenting dari konsep pendidikan usia dini adalah mengenalkan kepada anak-anak bagaimana belajar sambil bermain. “Ini merupakan sesuatu hal, yaitu apa itu konsep bermain dan belajar. Itulah yang sebenarnya membentuk karakter anak usia dini. Bagaimana mereka berkolaborasi, bagaimana cara menemukan kreativitas, kemudian menjadi cinta sekolah dan cinta belajar. Jadi yang penting bukan soal cepat berhitung, cepat menulis, atau cepat membaca. Bukan! Itu bukan yang terpenting,” tegas Mendikbud saat diwawancarai media usai kegiatan Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional Tahun 2019 di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Terkait pelajaran calistung pada anak usia dini, Mendikbud meminta semua pihak untuk memahami konsep atau filosofi bermain dan belajar di lembaga PAUD. Menurutnya tidak masalah jika ada anak usia dini yang sudah siap dan ingin belajar calistung. Tapi jangan sampai hal tersebut menjadi fokus utama di lembaga-lembaga PAUD hanya karena ingin mengejar kemampuan calistung anak sebelum masuk jenjang SD.

“Semua anak itu berbeda. Ada anak yang sudah siap dan ingin maju, tapi ada juga anak yang belum siap,” katanya.

Mendikbud pun kembali menegaskan fokus pendidikan pada anak usia dini adalah pendidikan karakter. Menurutnya, kesuksesan pendidikan anak usia dini antara lain terlihat jika anak sudah menunjukkan kemampuan dirinya dalam berinteraksi dengan teman, tumbuh kecintaannya terhadap buku, menyukai belajar, mengerti kedisiplinan, hingga puncaknya adalah kemampuan dalam berinteraksi dengan sesama. Misalnya bagaimana menghormati orang tua, tidak mengganggu atau mem-bully teman-temannya.

“Jadi hal-hal yang sifatnya bagaimana kita hidup sebagai manusia di dalam komunitas. Itu kuncinya sebenarnya. Kalau sudah itu benar, pas dia masuk SD hingga seumur hidupnya, dia pasti akan bisa mengetahui potensinya,” tutur Mendikbud.

Konsep terkait tentang penguatan pendidikan karakter (PPK) dan calistung tersebut diterapkan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Kebayoran Lama dalam menjalankan perannya.

“Saya setuju sekali kalau dikatakan peran guru itu sebagai pendidik karakter di usia dini karena sebenarnya pendidikan karakter itu penting di usia dini. Bagaimana kita menanamkan karakter baik untuk anak usia dini. Di situ juga fungsi sebagai pendidik anak usia dini sangat diperlukan dalam rangka tagline kita ‘Guru Penggerak Indonesia Maju’,” kata Ketua IGTK Kebayoran Lama, Mila selepas mengikuti upacara bendera memperingati Hari Guru Nasional di Halaman Kantor Kemendikbud di Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019).

“Terkait calistung di TK sah-sah saja asal bagaimana cara mengemasnya. Yang tidak boleh itu kan cara pengemasannya mereka di-drill kemudian dipaksakan, kemudian dengan cara-cara yang membuat mereka tertekan. Bagaimana kita mengemas itu menjadi salah satu kegiatan bermain yang secara tidak sadar mereka sedang diajak belajar sebenarnya, misalnya dengan cara permainan tradisional dengan menghitung dan yang lain-lain,” tambah perempuan berjilbab ini.

Berita Terkait

Headline

Rayakan Merdeka Mengajar