Mampukah Sekolah Menjawab Tantangan Zaman?

Mampukah Sekolah Menjawab Tantangan Zaman?

- Merdeka Belajar
1018

Pembelajaran yang berpusat pada murid adalah kunci.

 

GTK, Jakarta – Meminjam istilah Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, terdapat kodrat alam dan kodrat zaman. Timbul pertanyaan, mampukah sekolah menjawab tantangan zaman? Can our schools of today lead the learning of tomorrow?

Dalam kesempatan webinar bertema “Kebijakan Pendidikan terkait Guru dan Tenaga Kependidikan” yang diselenggarakan oleh Pusdatin Kemendikbud, Selasa (15/9/2020), Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril menjelaskan terkait kesiapan sekolah menjawab tantangan zaman.

“Ini pertanyaan besar apakah sekolah-sekolah kita pada saat ini bisa untuk menghasilkan pembelajaran yang dibutuhkan untuk masa mendatang? Kalau kita masih berpikir kayak ilustrasi di sebelah kiri, yaitu pabrikan, one size fits all, standar semua kayak di pabrik dengan spek yang jelas, mungkin kita tidak bisa menjawab tantangan revolusi industri 4.0,” kata Iwan Syahril.

“Ini katanya pendidikan masih terjebak di ekosistem revolusi industri 2.0. 3.0 saja masih belum, apalagi 4.0, karena itu kita harus melakukan lompatan,” tambahnya.

Dalam kesempatan lain, Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril menjelaskan pentingnya peran guru yang berdaya dalam upaya menghadirkan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.

“Salah satu ciri guru yang berdaya adalah pembelajar, karena guru itu adalah profesi yang sangat kompleks. Tidak pernah situasi yang dihadapi guru selalu sama. Guru itu tidak menghadapi mesin. Guru itu menghadapi makhluk hidup. Makhluk hidup itu terus berkembang. Makhluk hidup itu beragam macam,” jelas sosok yang akrab dipanggil Mas Dirjen.

“Murid itu tidak pernah ada yang sama. Dua anak kembar tidak pernah sama, apalagi yang bukan anak kembar, apalagi yang bukan saudara. Dan ini harus dimaknai oleh para guru di dalam kelas,” imbuhnya.

Maka pembelajaran yang berpusat pada murid adalah kunci.

“Sehingga murid yang sama pun taruhlah di kelas yang sama, pada hari yang berbeda, itu akan berbeda. Murid yang sama dengan topik yang berbeda, itu akan beda lagi dinamikanya. Murid yang sama ketika dia kecil, ketika dia awal remaja dan remaja itu beda lagi ceritanya. Karena itu makhluk hidup yang dihadapi dan itu sangat kompleks, tidak pernah sama. Jadi butuh memang belajar terus menerus tidak pernah berhenti,” beber Iwan Syahril.

Personalisasi dalam pembelajaran berpusat pada murid diperlukan.

“Jangan mendekati belajar kayak menghadapi mesin. Ini manualnya ya udah kita laksanakan. Enggak bisa, karena kalau mesin enak, ini tinggal pasang, spek-nya bisa dipesan kan. Saya butuh kayak ini, bahan gini, nanti tinggal disatukan, dan semuanya template-nya sama, pabriknya keluarnya sama, sudah ada standarnya. Manusia tidak seperti itu. Jadi itu kerja yang sangat kompleks yang menuntut kita untuk terus belajar,” tutur Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril.

Headline

Kebijakan Kemendikbud di Masa Pandemi