Trending Now

Kurikulum yang Menguatkan Kemauan

Kurikulum yang Menguatkan Kemauan

GTK, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan webinar dengan materi “Adaptasi Pembelajaran Kebiasaan Baru dengan Kurikulum Kondisi Khusus pada Tahun Ajaran Baru” pada Sabtu (8/8/2020). Sebagai narasumber Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril; guru penggerak Komunitas Guru Belajar Kabupaten Magelang, Titik Nur Istiqomah; pendidik dari SDN 09 Kabupaten Sanggau, salah satu daerah 3T di Kalimantan Barat, Titis Kartikawati; pegiat pendidikan dan parenting influencer, Lula Kamal; dan Kepala Pusat Penguatan Karakter, Hendarman.

Iwan Syahril dalam kesempatan tersebut menjelaskan tentang perlunya pembelajaran harus menyenangkan, proses pembelajaran yang tidak linier, serta kurikulum yang memperkuat kemauan.

“Ki Hajar Dewantara menamakan sekolahnya taman, Taman Siswa, jadi terinspirasi dengan konsep taman kanak-kanak, itu berarti pembelajaran harus menyenangkan bagi siswa. Berpihak pada murid, salah satu filosofi dari Ki Hajar Dewantara menggunakan kata-kata ‘berhamba pada murid’, artinya dalam hal ini betul-betul orientasi utama seorang pendidik itu kepada murid,” jelas sosok yang akrab dipanggil Mas Dirjen.

Iwan Syahril mengungkap bahwa proses pembelajaran tidak linier.

“Kadang-kadang proses belajar itu banyak yang mikir: enggak tahu, diberi tahu, sudah tahu, langsung bisa. Padahal yang namanya proses belajar itu sangat luar biasa, kalau dalam Bahasa Inggris messy ya, semrawut, sebenarnya enggak linier ya,” ujar Iwan.

“Jadi kadang-kadang masalahnya tahu, dikasih tahu, tapi kalau sudah tahu belum tentu mau. Membangun kemauan perlu dikondisikan. Ini sebenarnya membangun kemauan, lalu mampu. Itu tidak bisa dipaksakan, tapi harus dibangun dengan cara yang menguatkan kemauan,” sambungnya.

Kurikulum yang Menguatkan Kemauan

 Dirjen GTK Iwan Syahril mengutarakan perlunya membentuk ekosistem yang menguatkan kemauan. “Jadi pandemi ini menurut saya membuat ekosistem dalam konteks pendidikan, itu ekositem yang menguatkan kemauan. Jadi hal-hal yang saling positif, bersinergi positif, menguatkan kemauan dalam mencari solusi-solusi, ini hal yang terpenting menurut saya,” terangnya.

Iwan Syahril memandang kurikulum terpenting sesungguhnya adalah keteladanan.

“Jadi kurikulum terpenting pada masa seperti ini yang sangat signifikan yang akan selalu diingat anak adalah teladan-teladan dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Apakah orang dewasa itu menyerah, mengeluh dan kalah. Atau orang dewasa di sekitarnya dia lihat berjuang, disiplin, bekerja keras untuk tidak putus asa. Ini menurut saya kurikulum terpenting,” tutur Dirjen GTK Iwan Syahril.

“Kita ngomong penyederhanaan kurikulum, kurikulum mau digimanakan pun disederhanakannya, tetap yang jadi nanti akan berbekas pada anak di masa mendatang adalah keteladanan atau sikap orang dewasa, bagaimana mereka diperlakukan dan bagaimana contoh yang diberikan ketika menghadapi situasi sulit seperti ini,” tambah Iwan Syahril.

Kemauan merupakan hal yang fundamental yang merupakan kunci untuk menghadapi segala macam tantangan.

“Ini menurut saya hal yang perlu terus dikuatkan, kurikulum yang menguatkan kemauan. Kalau Ki Hajar bilangnya kan mangun karsa, membangun kemauan, itu sangat penting. Kalau Kartini bilang “Aku Mau” itu kata-kata yang sangat dahsyat. Walaupun dia dipingit, didiskriminasi seperti apa, tapi ketika ada kemauan insya Allah selalu ada jalan,” ucap Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril.

Komentar

Back to top