Kisah Guru Yana dan Lia yang Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020

Kisah Guru Yana dan Lia yang Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020

- Guru Berbagi
442

“Ternyata menjadi guru itu enak sekali. Saya menemukan passion di situ,” tutur Lia.

 

GTK, Jakarta - Merah Putih kembali berkibar dan Indonesia Raya kembali berkumandang di ajang Olimpiade. Di Olimpiade Tokyo 2020, Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Selain itu ternyata ada cerita lain yang menarik. Ternyata ada dua orang guru Indonesia menjadi wasit Olimpiade di cabang olahraga bulu tangkis.

Pada Sapa GTK 9: Dari Guru, Sampai Jadi Wasit di Olimpiade Tokyo 2020, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril berkesempatan untuk belajar dan berbagi dengan Wahyana dan Qomarul Lailiah. Sahabat Guru dan Tenaga Kependidikan dapat mereguk inspirasinya di akun Instagram @dirjen.gtk.

Wahyana, guru PJOK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 4 Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, sedangkan Qomarul Lailiah, guru Bahasa Inggris SDN Sawunggaling I/382, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Keduanya adalah BWF Certified Umpire, level tertinggi dalam perwasitan bulu tangkis sedunia (BWF: Badminton World Federation). Bahkan Yana saat ini juga sudah menjadi Badminton Asia Assessor Panel.

Di Sapa GTK dikupas tentang perjalanan mereka berdua menjadi pendidik, perjalanannya menjadi wasit, dan pengalaman mereka di Olimpiade Tokyo.

Yana menjadi guru olahraga karena didorong keinginannya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, hobinya berolahraga, dan faktor ekonomi keluarga. Beliau terinspirasi juga oleh pamannya yang juga seorang guru.

“Yang mendasari ada tiga hal. Dulu di SD itu, guru Agama saya mengajari bahwa manusia yang baik itu adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Itu alasan pertama. Kedua, alasan ekonomi, keluarga saya boleh dibilang kurang mampu saat itu. Faktor yang ketiga, hobi saya olahraga,” kata Yana, Sabtu (7/8/2021).

“Waktu SMP saya berpikir, apa yang bisa tiga-tiganya ini dapat, akhirnya saya memutuskan untuk sekolah di SGO, sekolah guru olahraga,” lanjut alumnus IKIP Negeri Yogyakarta ini tentang alasannya menjadi guru.

Sementara Lia menjadi guru justru dengan tidak sengaja. Beliau tadinya bercita-cita bekerja di bidang public relations karena ia orang yang senang bersosialisasi dan berkomunikasi. Pada masa awal ia mengajar bahasa Inggris, motivasinya lebih kepada supaya ilmu bahasa Inggrisnya makin kuat. Ternyata ia malah jatuh cinta pada profesi guru. Dan teruslah Lia menjadi guru hingga saat ini.

Lia yang juga menggemari senam dan membaca, bercerita bahwa awal mula kesukaannya mengajar karena pesan gurunya di sekolah.

“Ada seorang guru saya bilang begini, salah satu cara belajar yang paling efektif, itu dengan cara mengajar. Jadi kamu setelah menerima ilmu dari guru di sekolah, kamu ajarkan kembali ke adikmu, ke tetangga, itu saya praktikkan. Kok, lama-lama jadi keterusan,” ujar Lia mengenang.

Lia awalnya menjadi guru honorer pada suatu SD di belakang rumahnya. Lalu kepala sekolah di SD tersebut menyarankannya untuk mengambil akta mengajar. Sang suami pun mendukung kariernya sebagai guru.

“Ternyata menjadi guru itu enak sekali. Saya menemukan passion di situ,” tutur Lia.

Guru Bahasa Inggris SDN Sawunggaling I/382, Kota Surabaya, Jawa Timur, ini juga memandang dalam mengajar perlu kiranya menghadirkan kegembiraan terhadap mata pelajaran bagi siswa.

“Gimana caranya siswa ini, pertama, cinta dulu sama subjeknya, pelajarannya. Kalau sudah suka apa pun akan dilakukan,” ungkap Lia.

Headline

Inisiatif Para Guru Bergerak Lewat Transformasi Budaya Digital