Ketua Umum AKSI: Kepala Sekolah Adalah Seorang Climate Maker

Ketua Umum AKSI: Kepala Sekolah Adalah Seorang Climate Maker

- PPPGTK
2799

Bagaimana menciptakan atmosfer di sekolah dengan baik dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi perhatian Ketua Umum Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia Asep Tapip Yani.

 

GTK - Tantangan yang dihadapi oleh para kepala sekolah ini semakin banyak. Bagaimana menciptakan atmosfer di sekolah dengan baik dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi perhatian Ketua Umum Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia Asep Tapip Yani.

Ia mengungkapkan bahwa hal tersebut berkaitan dengan tema Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Tahun 2019 yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yaitu “Innovative School Leadership to Improve Student Learning and Wellbeing”.

Bagaimana kesejahteraan peserta didik yang selama ini mungkin belum terpikirkan menjadi bahasan yang sangat menarik dalam simposium ini.

“Temanya bagus, itu sebabnya wellbeing diangkat di sini. Karena selama ini kesejahteraan peserta didik tidak terpikirkan oleh kita, tentang bagaimana improvement student learning. Tetapi ternyata di Australia sudah tersentuh, peserta didik harus sejahtera,” ungkap Asep ketika ditemui oleh tim majalah HGN, Kamis (28/11/2019) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

“Ternyata kita melihatnya datang dari luar, dari Australia, ini menjadi dasar pemikiran tentang bagaimana murid bisa belajar dengan baik kalau lingkungannya tidak nyaman. Di sinilah peran kepala sekolah sebagai climate maker, pembuat iklim, iklim tidak hanya fisik saja tetapi bagaimana atmosfer di sekolah pun harus dibuat sebaik mungkin agar peserta didik mau belajar dan datang ke sekolah. Ini yang harus digaris bawahi oleh para kepala sekolah peserta simposium ini,” tambahnya.

Asep juga mengungkapkan tentang permasalahan mendasar tentang kepala sekolah yang saat ini masih menjadi polemik. Permasalahan yang ada bukan hanya dari segi kuantitas tetapi juga segi kualitas kepala sekolah yang menurutnya masih banyak yang belum mencapai kategori baik.

“Permasalahan mendasarnya adalah yang urgent dimulai dari kuantitas kepala sekolah itu sendiri. Bagaimana satuan pendidikan bisa melayani dengan baik apabila ada sekolah yang tidak memiliki kepala sekolah, ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Di sisi lain, sisi kualitas, kondisinya masih belum merata. Kenyataannya di daerah-daerah itu ada kepala sekolah yang kualitasnya tidak menunjang, banyak faktor yang menyebabkan  hal tersebut, salah satunya adalah belum adanya kegiatan-kegiatan seperti ini yang menunjang kepala sekolah untuk meng-upgrade diri mereka,” ungkap Asep.

“Kepala sekolah menjadi ujung tombak bagaimana memimpin kegiatan pembelajaran dengan sukses supaya peserta didik bisa mencapai tujuan kualitas pendidikan,” tambahnya.

Digelarnya simposium ini diharapkan oleh Asep dapat menjadi salah satu solusi nyata permasalahan kepala sekolah terutama dalam hal kualitas.

“Simposium ini sangat bagus sekali untuk menambah wawasan, pengalaman, dan sedikit “memaksa” para peserta untuk paham akan bahasa Internasional. Itukan bagus untuk meng-upgrade diri mereka. Kalau bisa dilakukan setahun dua kali, menjelang pergantian semester. Karena ini menjadi jawaban dari para kepala sekolah tidak mengalami upgrading. Apabila intensitasnya masuk dalam kategori sering, tentu wawasan yang didapat pun akan banyak. Dan memancing kita untuk berpikir masalah kesejahteraan anak sesuai dengan tema yang diusung,” tukasnya.

“Ini akan menggenjot kepala sekolah untuk lebih maju dam terus berkembang, semakin banyak informasi, semakin banyak tantangan yang ingin dilalui. Inovasi menjadi suatu keharusan sekarang ini,” tutupnya.

Berita Terkait

Headline

Asesmen Nasional, Semua Guru Berperan dalam Kemampuan Bernalar Siswa