Inilah Alasan Mendongeng Bagi Anak Usia Dini Penting

Inilah Alasan Mendongeng Bagi Anak Usia Dini Penting

- GTK PAUD
379

Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) mengadakan tiga lomba sebagai rangkaian memperingati Hari Guru Nasional (HGN)

 

GTK, Jakarta – Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) mengadakan tiga lomba sebagai rangkaian memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Salah satu perlombaan yang diadakan adalah Lomba Mendongeng Anak Usia Dini.

Koordinator Dewan Juri lomba tersebut, Agung Cahya Karyadi mengatakan, perlombaan tersebut memang wajib dilakukan dan sangat mengapresasi DitPGTK Paud dan Dikmas karena telah menyelenggarakannya. Pasalnya, mendongeng banyak sekali manfaatnya bgai anak, khususnya anak usia dini.

“Wah banyak sekali manfaat mendongeng bagi anak-anak, salah satunya adalah pendidikan karakter,” tutur Cahya.

Dijabarkan Dosen yang akrab disapa Kak Cahyo ini, selain pendidikan karakter, mendongeng dapat melatih motorik anak, meningkatkan kimistri antara orang tua/guru dengan anak, sebagai salah satu cara untuk mendidik dan mengajarkan anak, serta melatih gestur atau kebutuhan gerak tubuh anak.

Selain itu mendongeng, sambungnya, merupakan bentuk literasi yang sangat komplit sekali. Mulai dari menulis, membaca, berbicara dan menyimak. 4 komponen literasi ini terdapat di dalam mendongeng dan otomatis akan melatih anak untuk 4 hal tersebut.

“Yang paling jelas adalah, mendongeng merupakan cara hipnoterapi untuk anak. Banyak sekali literasi didalam mendongeng. Setelah mendongeng, anak disuruh menceritakan kembali, literasi dasar adalah membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Itu bisa kita lakukan saat mendongeng,” jelas Kak Cahyo.

Terakhir, pesan Kak Cahyo kepada guru PAUD maupun orang tua, mendongeng tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Jika kisah yang diceritakan salah, maka itu pun akan berpengaruh kepada mental dan karakter anak.

Jadi, katanya, dalam mendongeng orang tua atau guru tidak boleh mencari cerita yang memiliki unsur kekerasan. Selain itu dalam bercerita juga tidak boleh ada unsur kata-kata kurang baik didalamnya atau kata sugesti, sehingga anak akan menjadi pemarah atau malah penakut.

“Misalnya, adek-adek jangan ribut,a ini akan ribut, jangan rame ya, akan rame. Harusnya ank pintar anak soleh harus duduk rapi maka rapi, anak pinter harus disiplin ya, maka anak akan disiplin, muatan harus positif untuk pesan moral dan pesan edukatif,” tuturnya.

“Yang paling penting poinnya adalah, cari cerita yang positif, tanpa kekerasan serta sesuai dengan umur sang anak,” tambahnya.

Berita Terkait

Headline

Mendikbud: Guru Adalah Kunci untuk Menyelesaikan Masalah SDM